Minggu, 23 Desember 2012

PEMANFAATAN AIR KOLONG SEBAGAI AIR MINUM



Air kolong adalah salah satu sumber air baku yang ada di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Setiap aktivitas masyarakat yang berhubungan dengan air di propinsi ini, menggunakan air kolong sebagai sumber bahan baku air bersih. Aktivitas itu antara lain mencuci, mandi, mencuci lada, termasuk kebutuhan air minum sehari-hari berasal dari air kolong.
Dari fakta tersebut, menandakan bahwa air kolong aman untuk digunakan sebagai sumber bahan baku air bersih warga setempat. Namun demikian, terdapat keraguan karena apabila dilihat dari proses pembentukan air kolong itu sendiri berasal dari proses bekas galian tambang timah. Proses galian ini akan meninggalkan cekungan lahan yang akan terisi air hujan maupun air permukaan yang ada di sekitarnya. Batuan buangan, batuan dinding dan dasar danau tambang sangat mempengaruhi proses geokimia ketika danau bekas tambang terisi oleh air.
Pembentukan kolong dapat dilakukan dengan cara semprot (hydraulic mining) ataupun cara keruk (dredging). Kegiatan ini akan meninggalkan kolong-kolong yang berbeda bentuk, kedalaman, dan kecepatan reklamasinya, terutama dalam hal regenerasi biota. Kolong yang terbentuk dari lubang bekas galian tambang memiliki ukuran dan kedalaman yang berbeda tergantung jenis galiannya. Kedalaman kolong bervariasi mulai dari 1 hingga 21 m, namun umumnya kedalaman kolong di atas 5 m. 
Pada saat ini terlihat kolong-kolong bekas penambangan timah yang tersebar di daratan Pulau Bangka dan terbuka secara tidak beraturan. Penyebaran kolong oleh PT.Tambang Timah dan PT. Koba Tin di Pulau Bangka dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1 Jumlah dan Luas Kolong di Pulau Bangka
No.
Kecamatan
Jumlah Kolong
Luas (Ha)
Wilayah Kuasa Penambangan (KP)
1.
Mentok
31
59,45
PT. Tambang Timah
2.
Jebus
75
23,38
PT. Tambang Timah
3.
Belinyu
125
202,05
PT. Tambang Timah
4.
Sungailiat
83
134,11
PT. Tambang Timah
5.
Pangkalan Baru
88
110,01
PT. Tambang Timah
6.
Tempilang
24
35,25
PT. Tambang Timah
7.
Sungai Selan
69
407,48
PT. Tambang Timah
8.
Toboali
49
63,78
PT. Tambang Timah
9.
Koba
45
1.453,4
PT. Koba Tin
Jumlah
589
2.488,91
-
(Sumber : PT. Tambang Timah 2010 dan PT. Koba Tin 2010)
Berdasarkan data pada tabel di atas, luas kolong hasil penambangan seluas 2.488 Ha dan jika dibandingkan dengan luas Pulau Bangka seluas 1.169.354 Ha berarti telah mengubah 0,2% dari luas tanah daratan menjadi air.
Danau bekas galian tambang tentunya banyak menimbulkan efek kimia dari penambangannya, seperti rendahnya derajat keasaman (pH), konsentrasi logam berat yang masih cukup tinggi dan beberapa elemen kualitas air lainnya masih di atas ambang batas seperti Fe, Al, Pb, dan Mn yang sangat tinggi (Henny dan Evi Susanti, 2009).
Kondisi di atas menjadi memprihatinkan, manakala kolong menjadi sumber air baku untuk pengolahan air bersih. Kolong ini menjadi andalan untuk menyuplai air di Kepulauan Bangka Belitung. Dalam buku Lani Puspita dkk. tahun 2005, kolong di Indonesia secara teknis digolongkan menjadi tiga tipe berdasarkan tingkat kematangan biogeofisiknya, yaitu :
a)      Kolong/danau bekas galian mentah (kolong usia muda)
Yaitu kolong yang berumur kurang dari 5 tahun. Seluruh kandungan unsur hara pada kolong ini sudah hilang/rusak. Kehidupan biologis di kolong ini hampir tidak ada karena seluruh unsur hara/mineralnya sudah hilang/rusak, sehingga dibutuhkan waktu yang panjang untuk suksesi lingkungan. Kegiatan perbaikan lingkungan atau reklamasi dapat dilakukan, namun diperlukan biaya yang besar dan jangka waktu yang panjang.
b)     Kolong/danau bekas galian setengah matang (kolong usia sedang)
Yaitu kolong yang berumur antara 5 sampai 20 tahun. Di kolong ini mulai terdapat kehidupan biologis namun jenis spesies dan populasinya masih terbatas, karena air dalam kolong masih cukup banyak mengandung bahan pencemar.
c)      Kolong/danau bekas galian matang (kolong usia tua)
Yaitu kolong yang berumur lebih dari 20 tahun. Kondisi biogeofisik kolong ini sudah semakin normal seperti layaknya sebuah danau atau kolong tua. Keanekaragaman hayati kolong ini (plankton, ikan, dan organisme akuatik lainnya) sudah menyerupai perairan tergenang alami. Air di kolong ini sudah dapat dimanfaatkan masyarakat bagi kehidupan sehari-hari. Walau begitu bukan berarti kolong ini telah bebas dari masalah, karena lapisan lumpur di dasar perairan diduga masih banyak mengandung bahan pencemar.
Daerah Kepulauan Bangka Belitung merupakan daerah dengan intensitas curah hujan rata-rata dalam setahun sekitar 287 mm. Jenis tanah kering yang mendominasi daerah Kepulauan Bangka Belitung juga mempengaruhi ketersediaan air pada musim kemarau karena sebagian besar air sumur, air tanah dan air sungai mengalami kekeringan. Pada dasarnya di Daerah Kepulauan Bangka Belitung tidak ada danau alami, hanya ada bekas penambangan bijih timah yang luas dan hingga menjadikannya seperti danau buatan yang disebut kolong. Data BPS melaporkan bahwa 54,14% saja masyarakat Kabupaten Bangka yang memiliki akses terhadap air bersih. Jumlah ini diperkirakan akan terus menurun sejalan dengan degradasi lingkungan. Sumber, cadangan, volume, dan kualitas air menurun drastis akibat penambangan timah yang tidak terkendali. Di sisi lain, air tanah juga mulai mengalami eksploitasi besar-besaran, sementara palung-palung air tanah terutama untuk sebagian besar wilayah terisi rembesan (intrusi) air laut. Kondisi ini disebabkan penambangan yang tidak terkendali telah merambah ke wilayah-wilayah yang merupakan fungsi lindung dan sumber air, sehingga menyebabkan jumlah luas hutan, lahan, dan daerah aliran sungai kritis semakin meningkat. Di sisi lain, pengelolaan limbah pertambangan yang tidak teratur telah mengakibatkan banyak sumber air yang menjadi sumber air baku bagi masyarakat mengalami pencemaran hebat. Sungai-sungai mengalami pencemaran dan pendangkalan, air tanah permukaan mengalami penurunan kapasitas. Sementara untuk beberapa kecamatan seperti Sungailiat yang berdekatan dengan pantai, air tanah mengalami intrusi air laut yang korosif dan sudah tercemar limbah TI Apung. Penyakit generatif dan degenaratif banyak bermunculan yang diduga berkaitan erat dengan konsumsi air yang telah tercemar ini. Selain penyakit kulit, penyakit generatif yang terekspos ke permukaan adalah adanya fenomena kelahiran bayi dengan usus terburai atau tampang tempurung kepala. Jika dalam kondisi normal penyakit generatif seperti ini hanya terjadi pada satu dari 200.000 kelahiran, maka di Bangka Belitung dalam 2 tahun terakhir telah terjadi setidanknya 5 kasus yang mencengangkan (POKJA AMPL Kabupaten Bangka).
Dengan adanya keterbatasan sumber air sehingga seiring perkembangan waktu pemanfaatan air kolong semakin meningkat dengan meningkatnya jumlah penduduk di daerah ini. Di Kepulauan Bangka Belitung, air kolong yang telah berusia lebih dari 20 tahun menjadi sumber air baku untuk pengolahan air bersih PAM. Beberapa parameter masih di atas ambang batas pada air hasil olahan dari air kolong yaitu kekeruhan, nitrit, dan bakteri coliform (data kualitas air 2007-2012 Sungailiat Bangka). Hal ini akan berdampak pada konsumsi atau pemanfaatan air bersih pada pelanggan air PAM. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan TIM BPK RI dalam buku tahunan PDAM Kabupaten Bangka 2010 kepada 155 pelanggan PAM tentang penggunaan air produksi diketahui bahwa 45% pelanggan tidak pernah mengkonsumsi untuk air minum, 27% pernah dengan intensitas kadang-kadang, 14% pernah dengan intensitas sering, dan 14% sisanya selalu mengkonsumsi untuk minum. Dengan demikian diketahui bahwa lebih dari 50% pelanggan pernah menggunakan air PAM sebagai air minum. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum karena persyaratan kualitas air kran sebagai air minum belum dapat dioptimalkan.
Atas hasil temuan tersebut, perlu adanya pengolahan sumber air yang bisa dimanfaatkan secara optimal bagi masyarakat Kepulauan Bangka Belitung khususnya sebagai air minum agar gangguan kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh air dapat dicegah.
Referensi :
Henny, Cynthia dan Evi Susanti. 2009. Karakteristik Limnologis Kolong Bekas Tambang Timah di Pulau Bangka. Jurnal Limnotek : Vol.XIV (2), 119-131.
Anonim. 2011. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Bangka. Sungailiat : PDAM Tirta Bangka Kabupaten Bangka.
Lani Puspita, dkk. 2005. Lahan Basah Buatan di Indonesia. Bogor : Wetlands International-Indonesia Programme.
http://ampl.bangka.go.id/index.php?option=com_content&view=category&id=39&layout=blog&Itemid=46

Hyperlink : http://www.pureitwater.com/ID/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar