Air kolong adalah salah
satu sumber air baku yang ada di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Setiap
aktivitas masyarakat yang berhubungan dengan air di propinsi ini, menggunakan
air kolong sebagai sumber bahan baku air bersih. Aktivitas itu antara lain
mencuci, mandi, mencuci lada, termasuk kebutuhan air minum sehari-hari berasal
dari air kolong.
Dari fakta tersebut,
menandakan bahwa air kolong aman untuk digunakan sebagai sumber bahan baku air
bersih warga setempat. Namun demikian, terdapat keraguan karena apabila dilihat
dari proses pembentukan air kolong itu sendiri berasal dari proses bekas galian
tambang timah. Proses galian ini akan meninggalkan cekungan lahan yang akan
terisi air hujan maupun air permukaan yang ada di sekitarnya. Batuan buangan,
batuan dinding dan dasar danau tambang sangat mempengaruhi proses geokimia
ketika danau bekas tambang terisi oleh air.
Pembentukan
kolong dapat dilakukan dengan cara semprot (hydraulic mining)
ataupun cara keruk (dredging). Kegiatan ini akan meninggalkan
kolong-kolong yang berbeda bentuk, kedalaman, dan kecepatan reklamasinya,
terutama dalam hal regenerasi biota. Kolong yang terbentuk dari lubang bekas
galian tambang memiliki ukuran dan kedalaman yang berbeda tergantung jenis
galiannya. Kedalaman kolong bervariasi mulai dari 1 hingga 21 m, namun umumnya
kedalaman kolong di atas 5 m.
Pada saat
ini terlihat kolong-kolong bekas penambangan timah yang tersebar di daratan
Pulau Bangka dan terbuka secara tidak beraturan. Penyebaran
kolong oleh PT.Tambang Timah dan PT. Koba Tin di Pulau Bangka dapat dilihat
pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel
1 Jumlah dan Luas Kolong di Pulau Bangka
No.
|
Kecamatan
|
Jumlah Kolong
|
Luas (Ha)
|
Wilayah Kuasa Penambangan (KP)
|
1.
|
Mentok
|
31
|
59,45
|
PT. Tambang
Timah
|
2.
|
Jebus
|
75
|
23,38
|
PT. Tambang
Timah
|
3.
|
Belinyu
|
125
|
202,05
|
PT. Tambang
Timah
|
4.
|
Sungailiat
|
83
|
134,11
|
PT. Tambang
Timah
|
5.
|
Pangkalan Baru
|
88
|
110,01
|
PT. Tambang
Timah
|
6.
|
Tempilang
|
24
|
35,25
|
PT. Tambang
Timah
|
7.
|
Sungai Selan
|
69
|
407,48
|
PT. Tambang
Timah
|
8.
|
Toboali
|
49
|
63,78
|
PT. Tambang
Timah
|
9.
|
Koba
|
45
|
1.453,4
|
PT. Koba Tin
|
Jumlah
|
589
|
2.488,91
|
-
|
|
(Sumber
: PT. Tambang Timah 2010 dan PT. Koba Tin 2010)
Berdasarkan data pada
tabel di atas, luas kolong hasil penambangan seluas 2.488 Ha dan jika
dibandingkan dengan luas Pulau Bangka seluas 1.169.354 Ha berarti telah
mengubah 0,2% dari luas tanah daratan menjadi air.
Danau bekas galian
tambang tentunya banyak menimbulkan efek kimia dari penambangannya, seperti
rendahnya derajat keasaman (pH), konsentrasi logam berat yang masih cukup
tinggi dan beberapa elemen kualitas air lainnya masih di atas ambang batas
seperti Fe, Al, Pb, dan Mn yang sangat tinggi (Henny dan Evi Susanti, 2009).
Kondisi di atas menjadi
memprihatinkan, manakala kolong menjadi sumber air baku untuk pengolahan air
bersih. Kolong ini menjadi andalan untuk menyuplai air di Kepulauan Bangka
Belitung. Dalam buku Lani Puspita dkk. tahun 2005, kolong
di Indonesia secara teknis digolongkan menjadi tiga tipe berdasarkan tingkat
kematangan biogeofisiknya, yaitu :
a)
Kolong/danau bekas
galian mentah (kolong usia muda)
Yaitu kolong yang berumur kurang dari
5 tahun. Seluruh kandungan unsur hara pada kolong ini sudah hilang/rusak.
Kehidupan biologis di kolong ini hampir tidak ada karena seluruh unsur
hara/mineralnya sudah hilang/rusak, sehingga dibutuhkan waktu yang panjang
untuk suksesi lingkungan. Kegiatan perbaikan lingkungan atau reklamasi dapat
dilakukan, namun diperlukan biaya yang besar dan jangka waktu yang panjang.
b)
Kolong/danau bekas
galian setengah matang (kolong usia sedang)
Yaitu kolong yang berumur antara 5
sampai 20 tahun. Di kolong ini mulai terdapat kehidupan biologis namun jenis
spesies dan populasinya masih terbatas, karena air dalam kolong masih cukup
banyak mengandung bahan pencemar.
c)
Kolong/danau bekas
galian matang (kolong usia tua)
Yaitu kolong yang berumur lebih dari
20 tahun. Kondisi biogeofisik kolong ini sudah semakin normal seperti layaknya
sebuah danau atau kolong tua. Keanekaragaman hayati kolong ini (plankton, ikan,
dan organisme akuatik lainnya) sudah menyerupai perairan tergenang alami. Air
di kolong ini sudah dapat dimanfaatkan masyarakat bagi kehidupan sehari-hari.
Walau begitu bukan berarti kolong ini telah bebas dari masalah, karena lapisan
lumpur di dasar perairan diduga masih banyak mengandung bahan pencemar.
Daerah Kepulauan Bangka
Belitung merupakan daerah dengan intensitas curah hujan rata-rata dalam setahun
sekitar 287 mm. Jenis tanah kering yang mendominasi daerah Kepulauan Bangka
Belitung juga mempengaruhi ketersediaan air pada musim kemarau karena sebagian
besar air sumur, air tanah dan air sungai mengalami kekeringan. Pada dasarnya
di Daerah Kepulauan Bangka Belitung tidak ada danau alami, hanya ada bekas
penambangan bijih timah yang luas dan hingga menjadikannya seperti danau buatan
yang disebut kolong. Data BPS melaporkan bahwa 54,14% saja masyarakat Kabupaten
Bangka yang memiliki akses terhadap air bersih. Jumlah ini diperkirakan akan
terus menurun sejalan dengan degradasi lingkungan. Sumber, cadangan, volume,
dan kualitas air menurun drastis akibat penambangan timah yang tidak
terkendali. Di sisi lain, air tanah juga mulai mengalami eksploitasi
besar-besaran, sementara palung-palung air tanah terutama untuk sebagian besar
wilayah terisi rembesan (intrusi) air laut. Kondisi ini disebabkan penambangan
yang tidak terkendali telah merambah ke wilayah-wilayah yang merupakan fungsi
lindung dan sumber air, sehingga menyebabkan jumlah luas hutan, lahan, dan
daerah aliran sungai kritis semakin meningkat. Di sisi lain, pengelolaan limbah
pertambangan yang tidak teratur telah mengakibatkan banyak sumber air yang
menjadi sumber air baku bagi masyarakat mengalami pencemaran hebat.
Sungai-sungai mengalami pencemaran dan pendangkalan, air tanah permukaan
mengalami penurunan kapasitas. Sementara untuk beberapa kecamatan seperti
Sungailiat yang berdekatan dengan pantai, air tanah mengalami intrusi air laut
yang korosif dan sudah tercemar limbah TI Apung. Penyakit generatif dan
degenaratif banyak bermunculan yang diduga berkaitan erat dengan konsumsi air
yang telah tercemar ini. Selain penyakit kulit, penyakit generatif yang
terekspos ke permukaan adalah adanya fenomena kelahiran bayi dengan usus
terburai atau tampang tempurung kepala. Jika dalam kondisi normal penyakit
generatif seperti ini hanya terjadi pada satu dari 200.000 kelahiran, maka di
Bangka Belitung dalam 2 tahun terakhir telah terjadi setidanknya 5 kasus yang
mencengangkan (POKJA AMPL Kabupaten Bangka).
Dengan adanya
keterbatasan sumber air sehingga seiring perkembangan waktu pemanfaatan air
kolong semakin meningkat dengan meningkatnya jumlah penduduk di daerah ini. Di
Kepulauan Bangka Belitung, air kolong yang telah berusia lebih dari 20 tahun
menjadi sumber air baku untuk pengolahan air bersih PAM. Beberapa parameter
masih di atas ambang batas pada air hasil olahan dari air kolong yaitu
kekeruhan, nitrit, dan bakteri coliform (data kualitas air 2007-2012 Sungailiat
Bangka). Hal ini akan berdampak pada konsumsi atau pemanfaatan air bersih pada
pelanggan air PAM. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan TIM BPK RI dalam buku tahunan PDAM Kabupaten Bangka 2010 kepada
155 pelanggan PAM tentang penggunaan air produksi diketahui bahwa 45% pelanggan
tidak pernah mengkonsumsi untuk air minum, 27% pernah dengan intensitas
kadang-kadang, 14% pernah dengan intensitas sering, dan 14% sisanya selalu
mengkonsumsi untuk minum. Dengan demikian diketahui bahwa lebih dari 50% pelanggan
pernah menggunakan air PAM sebagai air minum. Kondisi tersebut tidak sesuai
dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010
tentang Persyaratan Kualitas Air Minum karena persyaratan kualitas air kran
sebagai air minum belum dapat dioptimalkan.
Atas hasil temuan
tersebut, perlu adanya pengolahan sumber air yang bisa dimanfaatkan secara
optimal bagi masyarakat Kepulauan Bangka Belitung khususnya sebagai air minum
agar gangguan kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh air dapat dicegah.
Referensi :
Henny, Cynthia dan Evi Susanti. 2009. Karakteristik Limnologis Kolong Bekas Tambang Timah di Pulau Bangka. Jurnal Limnotek : Vol.XIV (2), 119-131.
Anonim. 2011. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Bangka. Sungailiat : PDAM Tirta Bangka Kabupaten Bangka.
Lani Puspita, dkk. 2005. Lahan Basah Buatan di Indonesia. Bogor : Wetlands International-Indonesia Programme.
http://ampl.bangka.go.id/index.php?option=com_content&view=category&id=39&layout=blog&Itemid=46
Hyperlink : http://www.pureitwater.com/ID/
Referensi :
Henny, Cynthia dan Evi Susanti. 2009. Karakteristik Limnologis Kolong Bekas Tambang Timah di Pulau Bangka. Jurnal Limnotek : Vol.XIV (2), 119-131.
Anonim. 2011. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Bangka. Sungailiat : PDAM Tirta Bangka Kabupaten Bangka.
Lani Puspita, dkk. 2005. Lahan Basah Buatan di Indonesia. Bogor : Wetlands International-Indonesia Programme.
http://ampl.bangka.go.id/index.php?option=com_content&view=category&id=39&layout=blog&Itemid=46
Hyperlink : http://www.pureitwater.com/ID/




Tidak ada komentar:
Posting Komentar